Lima “Crazy Rich” Bertarung di Kancah Politik Indonesia

Lima "Crazy Rich" Bertarung di Kancah Politik Indonesia

FORMASINDO – Jakarta, Demokrasi di Indonesia dinilai sudah berjalan baik dalam hal perwakilan berbagai kelompok etnis dan agama.
Akan tetapi, peneliti ilmu politik dari Universitas Leiden Ward Berenschot dalam siaran pers yang dilangsir CNBC Indonesia, mengatakan dari sisi kelas sosial, demokrasi masih belum representatif lantaran dominasi pelaku bisnis dan elite ekonomi yang menduduki posisi anggota parlemen, gubernur, hingga bupati.

Ia lantas mencontohkan beberapa dominasi pelaku bisnis dan elite ekonomi dalam demokrasi Indonesia, seperti Sandiago Uno, Erick Thohir, Hary Tanoesoedibjo, Aburizal Bakrie, hingga Surya Paloh.

“Sekarang sangat mudah untuk pelaku bisnis masuk dunia politik. Di tingkat lokal, polanya hampir sama,” ujar Berenschot.

CNBC Indonesia merangkum setidaknya ada lima pengusaha kakap yang telah terjun ke dunia politik, berikut daftarnya:

1. Erick Thohir
Mengutip data LHKPN 2021, kekayaan Menteri BUMN dan Ketua Umum PSSI tersebut Rp 2,3 triliun. Total harta kekayaannya sudah dikurangi dengan utang Rp165 miliar.

Harta kekayaannya terdiri dari 34 tanah dan bangunan di Depok, Bekasi, Bogor, Badung, Pasuruan, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Tangerang, dan Manggarai Barat, dengan nilai Rp 364 miliar.

Kemudian, alat transportasi dan mesin yang meliputi dua mobil Mercedez Bens dan satu motor Honda dengan nilai Rp 1,8 miliar, harta bergerak Rp 27 miliar, kas dan setara kas Rp209 miliar, serta harta lainnya Rp 159 miliar. Lalu, sumber harta kekayaan terbesar Erick tercatat dari surat berharga yakni Rp 1,7 triliun.

Jauh sebelum terjun ke dunia politik, Erick diketahui sebagai pemilik Mahaka Grup yang menaungi stasiun radio, stasiun TV, perusahaan digital, hingga event organizer.

2. Sandiaga Uno
Merujuk pada data LHKPN KPK, total kekayaan terbaru yang dilaporkan sebesar Rp 10,99 triliun. Laporan LHKPN saat ini dalam proses verifikasi.

Capian Sandiaga dalam mendulang harta, membuatnya dinobatkan sebagai menteri terkaya.

Kekayaan mantan Wakil Gubernur Jakarta itu disebut naik sekitar Rp 300 miliar pada tahun 2022 dibanding hartanya pada 2021. Berdasarkan LHKPN 2021, Sandi memiliki harta Rp 10,61 triliun.

Politisi ini memang juga merupakan seorang pengusaha. Bahkan, sebelum berkecimpung di dunia politik, pria yang akrab disapa ‘Bang Sandi’ tersebut telah lama berkiprah di dunia investasi dan pasar modal melalui PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG).

SRTG merupakan perusahaan holding sekaligus investasi yang resmi melantai di Bursa domestik pada 26 Juli 2013. Perusahaan ini dibangun Sandi bersama anak pendiri Grup Astra International yaitu Edwin Soeryadjaya.

Berdasarkan situs saratoga-investama.com, Sandi saat ini tercatat sebagai pemegang saham terbanyak ketiga dengan besaran 2,9 miliar saham SRTG atau setara dengan 21,51% kepemilikan.

Portofolio investasi SRTG sebagai perusahaan investasi tersebar di berbagai sektor. Mulai dari bidang energi dan sumber daya alam, metal, teknologi dan infrastruktur digital, konstruksi, pelayanan publik, logistik, properti, alat kesehatan, green economy, startup, serta digital media.

Anak usaha SRTG pun ada yang merupakan perusahaan publik maupun private. Setidaknya, ada lima anak usaha SRTG yang merupakan perusahaan publik. Tiga diantaranya merupakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar dan dua lainnya merupakan perusahaan yang berada dalam fase pertumbuhan.

Saat ini, SRTG tercatat berinvestasi di beberapa perusahaan lain antara lain, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) PT Aneka Gas Industri Tbk (AGII), dan PT Adaro Minerals Indonesia (ADMR).

3. Aburizal Bakrie (ARB)
Aburizal Bakrie pernah disebut sebagai orang paling kaya di Asia Tenggara. Grup Bakrie sendiri mempunyai berbagai ladang uang di hampir semua sektor penting dalam perekonomian.

Pra yang akrab disapa Ical, dengan bakat bisnisnya yang cemerlang spat berperan sangat besar dalam mengembangkan, memajukan, serta memperluas sayap bisnis Bakrie Group.

Adapun bisnis mereka mencakup berbagai sektor. Di antaranya ialah energi, properti, pertambangan batu bara, minyak, infrastruktur, kesehatan, jasa keuangan, media, telekomunikasi dan operator seluler, perkebunan, media massa, juga teknologi.

Dari bisnis tersebut, Grup Bakrie meraup pundi-pundo kekayaan. Pada tahun 2006, namanya mulai masuk dalam daftar orang terkaya keenam di Indonesia versi Forbes, dengan total kekayaan mencapai US$ 1,2 miliar.

Mengutip list yang dirilis Forbes 2007, Aburizal Bakrie adalah orang paling kaya di Indonesia. Saat itu total hartanya menembus US$ 5,4 miliar. Bahkan Majalah Globe Asia 2008 juga menyebut nama Aburizal Bakrie sebagai orang paling kaya di Asia Tenggara. Kekayaannya saat itu berada di angka fantastis, yakni US$ 9,2 miliar.

Kekayaan Bakrie saat itu meroket lantaran saham salah satu anak usahanya terus menanjak dari Rp300 per lembar (2004) menjadi Rp5.900 per lembar (2007). Sayangnya, tak ada yang kekal di dunia ini. Kejayaan Aburizal Bakrie tak berlangsung langgeng.

Namun sayangnya, krisis moneter global yang melanda di tahun 2008 membuat Ical tak dapat bertahan di peringkatnya. Tahun itu, namanya turun ke peringkat sembilan dalam daftar bergengsi Forbes. Di tahun 2012, namanya tak lagi ada dalam deretan konglomerat terkaya Tanah Air.

4. Hary Tanoe
Hary Tanoe ditaksir memiliki harta kekayaan mencapai US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 15 triliun (kurs Rp 15.000/dolar AS). Hal ini berdasarkan laporan dari Forbes Real Time Billionaires, Selasa (31/1/2023).

Menurut catatan Detikcom, Hary Tanoesoedibjo merupakan anak dari Ahmad Tanoesoedibjo, yang merupakan pendiri MNC Group dan hingga saat ini masih menjabat sebagai Chairman PT MNC Investama Tbk, dahulu PT Bhakti Investama Tbk.

Hary Tanoe telah mulai membangun bisnis media segera setelah ia lulus kuliah. Hingga saat ini dirinya masih memiliki lebih dari 60 stasiun TV, stasiun radio, dan surat kabar. Hary Tanoe juga menjabat di berbagai anak perusahaan MNC Group.

Dirinya diketahui sudah menjabat sebagai Komisaris Utama PT MNC sejak bulan Februari 2004. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Direktur Utama pada: PT Global Mediacom Tbk sejak 2002, PT Media Nusantara Citra Tbk sejak 2004, PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) sejak 2010, PT MNC Land Tbk sejak 2011, PT GLD Property sejak 2012.

Selain itu, Hary Tanoe juga menjabat sebagai Komisaris Utama pada: PT MNC Sky Vision Tbk (Indovision) sejak 2006, PT MNC Sekuritas sejak 2004, PT Global Informasi Bermutu (Global TV) sejak 2009, PT Media Nusantara Informasi sejak 2009 dan PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (MNCTV) sejak 2011.

Tidak lama setelah itu, pada 2016 ia mengundurkan diri sebagai CEO Media Nusantara Citra (MNC), yang memiliki empat stasiun TV nasional, untuk fokus pada politik.

Lalu, pada 11 Maret 2022 lalu, PT MNC Studios International Tbk (MSIN) mengubah namanya menjadi PT MNC Digital Entertainment Tbk pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Hary Tanoe pada saat itu diangkat sebagai Direktur Utama MNC Digital, menggantikan Ella Kartika yang akhirnya menempati posisi direktur.

5. Surya Paloh
Surya Paloh merupakan Ketua Umum Partai Nasdem. Sebelum mendirikan Partai Nasdem pada tahun 2011, Surya bernaung di bawah Partai Golkar.

Ia sebelumnya juga merupakan seorang pengusaha yang bergerak di berbagai bidang. Harta kekayaan Surya pada tahun 2018 mencapai Rp 8,74 triliun. Ini menempatkan bos Media Group tersebut sebagai orang terkaya ke-77 dari 150 orang di Indonesia versi Globe Asia.

Lowongan Wartawan
blank
Search